Sejarah Gunung Bromo

Sejarah Gunung Bromo

Sejarah dan Mitos Gunung Bromo

Sejarah Gunung Bromo – Sedangkan Legenda Asal Usul Cerita Suku Tengger adalah suku yang tinggal di lereng pegunungan tepatnya di Gunung Bromo dan Semeru. Konon pada jaman dahulu kala keberadaan adat suku tengger dikaitkan dengan kerajaan Majapahit yang pernah berkuasa pada periode tahun 1293 masehi hingga abad ke 6. Asal usul nama Tengger diambil dari nama sepasang suami istri yang bernama Roro Anteng (teng) dan Joko Seger (ger) yang digabungkan menjadi Tengger sampai sekarang terkenal dengan Suku Tengger.

Sebelum Roro Anteng dinikahi Joko Seger, banyak laki laki yang naksir akan kecantikan wajahnya yang sangat alami laksana dewi, salah satunya kyai Bhima. Akhirnya kyai Bhima mempunyai niat untuk melamar Roro Anteng yang saat itu mempunyai rasa pada Joko Seger, Roro anteng tidak bisa menolak lamaran kyai Bhima begitu saja.

Ada syarat tertentu yang diberikan kapada kyai Bhima untuk bisa melamar Roro anteng yaitu dengan membuatkan lautan diatas gunung yang harus diselesaikan dalam waktu satu malam.

Akhirnya kyai Bhima menyanggupinya dan berusaha untuk membuat lautan dengan tempurung bathok, untuk mendapatkan air kyai Bhima berusaha membuat sumur raksasa yang saat ini menjadi kawah Bromo.

Suara Gaib Gunung Bromo

Rara Anteng mulai menumbuk padi di tengah malam. Pelan-pelan suara tumbukan dan gesekan alu membangunkan ayam-ayam yang sedang tidur. Kokok ayam pun mulai bersahutan, seolah-olah fajar telah tiba, tetapi penduduk belum mulai dengan kegiatan pagi.

Tiba-tiba ada suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo, Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya.

Kemudian didapatkannya 25 orang putra-putri, namun naluri orang tua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra-putrinya. Pendek kata tentang Sejarah Gunung Bromo | Legenda Bromo Tengger, pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger ingkar janji.

Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan malapetaka, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita sehingga kawah Gunung Bromo menyemburkan api.

Kusuma anak bungsunya lenyap dari pandangan terjilat api kemudian masuk ke kawah Bromo, bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib: ”Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Syah Hyang Widi.

Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji yang berupa hasil bumi kemudian di persambahkan kepada Hyang Widi asa di kawah Gunung Bromo. Sampai sekarang kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara Kasada di Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.

Masyarakat di tengger

Masyrakat disana terkenal dengan kerukunannya jarang terjadi perselisihan dan permusuhan antar sesama. Semua ini dilakukan karena masyarakat suku tengger mempunyai kepercayaan dan prinsip perpedoman kepada nenek moyeng mereka. Dari nilai nilai positif pedoman suku tengger ini bisa kita adopsi ke kehidupan kita sehari hari agar supaya tercipta hubungan sosial yang harmonis antar sesama.

Indonesia kaya akan budaya, dengan mempelajari suku dan budaya suku Tengger maupun suku lain akan memberikan banyak nilai positif terhadap diri kita. Selain kearifan lokal, pengetahuan dan wasasan kita pun semakin luas.

Kebanyakan orang berkunjung ke Objek Wisata Bromo hanya menikmati keindahan panorama alamnya saja, Sejarah Gunung Bromo dan legenda asal usul cerita suku tengger menjadi tidak begitu penting.

Padahal tempat wisata alam tidak dapat dipisahkan dari legenda dan budaya daerah lokasi wisata tersebut berada. Mari kita menjaga peninggalan sejarah dari nenek moyang kita, berwisata yang tidak hanya menikmati keindahan alamnya saja tetapi juga mempelajari kearifan lokalnya dan menjaga kelestarianya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *